Rabu, 09 Maret 2011

SPESIAL: LPI Terdengar Hingga Brasil


Amaral menceritakan pengalaman barunya bersama Manado United.

Salah satu portal berita terkemuka Brasil, Lancenet, memberi perhatian khusus kepada Liga Primer Indonesia (LPI). Media on-line Negeri Samba itu mengangkat kisah marquee player LPI, Amaral, ke dalam artikelnya.

Amaral dianggap mendapat kesempatan kedua berjaya di lapangan sepakbola dengan menerima ajakan bergabung dari Manado United. Di klub barunya, pemain berusia 38 tahun itu menerima kontrak lumayan, tinggal di rumah yang bagus, dan mengenakan kostum bernomor punggung 10.

Kedatangan Amaral ke Indonesia diawali dengan kontak dari Luciano Leandro. Eks pemain yang pernah sembilan tahun berkiprah di Indonesia itu memperkenalkan kompetisi model baru yang bertujuan bersih dari korupsi. Dengan mendengarkan saran Luciano, kini Amaral kembali menikmati masa-masa kejayaan sebagai pemain idola. Pendukung dan bahkan pemain lawan berebutan meminta berfoto bersamanya.


"Dari semua negara yang pernah saya kunjungi, di sini yang saya rasakan budayanya paling berbeda. Tapi saya menikmatinya," ujar Amaral.

"Orang-orang di sini membuat sup mata ayam, minum darah ular, dan bahkan saya diajak mencicipi daging kelawar. Saya bilang, saya takkan memakan Batman di sini [tertawa]."

"Saya tidak takut. Tapi yang membuat saya sedikit takut adalah bangun setiap pagi dan berhadapan dengan gunung berapi. Rumah saya hanya dua kilometer dari gunung berapi. Saya bilang ke sepupu saya, Vanderlei [yang menemaninya di Manado], kalau ada letusan yang harus dilakukan adalah membawa saya pergi dari sini."

Amaral menikmati lingkungan barunya. Saat berlatih, ribuan pasang mata menyaksikan tim. Bahkan dirinya dijadikan maskot tim. Foto Amaral dipasang di tiket pertandingan dan wajahnya terpampang di billboard tim. Apa pendapatnya soal fans Indonesia?

"Fans Brasil baru bereaksi kalau timnya juara atau bahkan kalah sama sekali. Tidak di sini. Mereka sangat bersemangat. Mereka sangat ramah kepada saya jika bertemu di jalan dan meminta berfoto bersama. Pemain dari tim lain pun meminta berfoto bersama saya," tukas pemain yang pernah membela Fiorentina ini.

"Gaji yang saya dapat di sini sebenarnya bisa juga didapat di Brasil, tapi tak berarti apapun dengan peluang ini. Saya bisa rasakan perbedaan di Indonesia gaji tidak terlambat, sedangkan bermain di klub kecil Brasil Anda hanya dibayar sekali dan tiga bulan kemudian tertunggak."

Figur yang mengajak Amaral ke Indonesia, Luciano Leandro, kini sibuk mengurusi bisnis sebagai pemilik Hotel Makassar di Rio de Janeiro. Leandro juga aktif melatih klub liga setempat, Goytacaz. Ketika LPI bergulir Januari lalu, Leandro kabarnya akan bergabung sebagai asisten pelatih Sartono Anwar di Persibo Bojonegoro.

"Memang kami sempat bicara kontrak di Bojonegoro, tapi saya sibuk sekali di Brasil," ungkapnya kepada GOAL.com Indonesia.

"Saya sudah kirim e-mail ke pak Ferry [Kodrat, CEO Persibo] dan saya minta maaf karena tidak bisa keluar dari Brasil. Banyak urusan di sini. Saya akan selesaikan dulu urusan saya dan nanti bulan Mei akan kembali ke Indonesia."

"Saya senang sekali melihat suasana di Solo [ketika kick-off LPI], Bojonegoro, dan Surabaya. Pengurus, suporter, pemain, dan wartawan kerja sama untuk memperbaiki sepakbola Indonesia."

Luciano mengaku terus memantau perkembangan sepakbola Indonesia melalui internet. Dua tahun lalu, Luciano pernah menangani PSMS Medan meski kiprahnya hanya berusia tiga bulan.

http://www.goal.com/id-ID/news/2980/liga-primer-indonesia/2011/03/08/2384273/spesial-lpi-terdengar-hingga-brasil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar